Showing posts with label kuliner. Show all posts
Showing posts with label kuliner. Show all posts

In love with cocoa

Kemarin saya baru baca di majalah Prevention kalau minuman cokelat itu baik buat kesehatan jantung dan bisa mencegah penebalan pembuluh darah / aterosklerosis. Sebenernya saya nggak ngerti sih atersklerosis itu gimana (ditulis di sini biar keren ajah).

Tapi perlu digarisbawahi kalau cokelat di sini beneran COKELAT as in bubuk kakao murni ya. Jadi bukan minuman cokelat yang udah dicampur gula dan susu entah-entah.

So, saya akhirnya membuat minuman coklat favorit saya sendiri. Bahannya adalah:
1. Susu tanpa rasa, rendah lemak
2. Bubuk kakao 100%
3. Madu

Semuanya dicampur, diaduk, dan diminum glek-glek-glek.... Kemudian acungkan jempol dan ucapkan "Enaaaaaakkk...!"

Biasanya saya pakai madu buat suplemen tambahan aja. Apalagi kalau badan lagi gak fit, biasanya saya pakai madu 2 sendok. Tapi kalaupun gak pake madu, buat saya sensasi pahitnya tetep enak \^_^/

I love you cocoa milk!

Kalo beli bubuk cokelat, carilah yang komposisinya 100% kakao!

Gara-gara keranjingan minum cokelat,
taplak meja dan karpet jadi korban bubuk kakao.



Resep Siomay

Hi-yaa…
Pas balik ke bekasi kemarin, saya ngajakin nyokap bereksperimen bikin siomay. Ternyata enak, lho! (agak keasinan dikit, hohoho). Mari kita lihat resepnya :


------------------------------------------------------------

Bahan-bahan untuk adonan siomay :

250 gram daging ayam cincang + udang cincang

125 gram tepung sagu

2 butir telur

1 siung bawang putih
, dicacah halus
1/2 bawang bombay, dicacah halus

1 sdt garam

1/2 sdt royco (boleh diganti dengan 1 sdt gula)

Air secukupnya (bisa diganti santan)


Bahan-bahan yang bisa ditempelin sama adonan siomay :

Kentang rebus

Telur rebus

Sawi putih

Tahu putih


Bahan-bahan untuk saus :

Bumbu pecel yang sudah jadi

Selai kacang (yup, that’s right! selai kacang....)


Tahapan membuat siomay :

  1. Campurkan semua bahan adonan siomay dan aduk sampai merata. Untuk air / santan, takarannya suka-suka aja (hehehe). Pokoknya hasil adonannya jangan sampai terlalu cair. Adonan harus cukup kenyal untuk dibentuk.
  2. Adonan siomay yang sudah jadi bisa ditempelin ke berbagai benda, semacam kentang, telur rebus, sawi putih, tahu putih. Ini terserah kreasi dan selera aja. Buat yang suka main kuda lumping, adonan siomay-nya bisa juga ditempelin ke beling.
  3. Kukus sampai matang (selama +/- 30 menit)
Tahapan membuat saus :
Bumbu pecel, selai kacang, dan air dicampur dan diaduk-aduk.
Takarannya sesuai kata hati aja, hehehe…


------------------------------------------------------------

Tadaaaaa !

Siomay kita sudah jadi. Hepi cooking!



Bahan baku untuk saus siomay. Tambahkan kecap dan irisan jeruk dan jadilah tukang baso tahu & hoki sejati.

Jangan terpedaya! Di foto ini tampilan siomay-nya memang kurang menarik. Untuk menggugah selera, sajikan siomay di atas piring cantik. Tambahkan hiasan seperti irisan jeruk nipis, cincin berlian, dan undian berhadiah Jaguar XJ220.

Suatu Malam di Bulan Agustus

Senernya hari ini saya ga enak badan. Gejalanya kaya yang mau flu : kepala puyeng, badan agak anget, terus tenggorokan juga sakit buat nelen, apalagi buat nelen kulit duren.

Cuma keanehan saya adalah ... kalo orang sakit biasanya ga nafsu makan, tapi kalo saya malah jadi rajin laper. Si dudul pun mengiyakan, ’laper kan emang kerjaan kamu ...’. Hohoho... Lapar memang sudah menjadi napas saya. Itu sebabnya waktu si Dibond ngajak makan bebek Van Java (deket Madtari ma Boromeus, FYI), saya sih hayuk aja.



Akhirnya kita makan berempat, ada saya (selaku tokoh utama), Dibond (figuran1), Neni (figuran2), ma Febri (stuntman buat peran pengganti bebek) yang baru pulang dari Belanda dan kini pipinya makin bulat & bersinar-sinar kena cahaya bulan. Saya gatau dia di Belanda beneran keseringan cuma makan Indomie atau emang rakus doank, tapi pas makan bebek ... doski lahap luar biasa! You’re eating like a pig, man ...


Saya curiga dia terinspirasi sama tulisan yang terpampang di meja seperti yang nampak berikut ini :


Bebek yang malang ... Dipaksa berpose & ikut panjat pinang sebelum disembelih. Hidup Bebek Indonesia !


Abis ngebebek, kita ke Ciwalk nyari es krim di Pisa. Gila yak ... ngakunya dah kenyang, nyatanya elastisitas lambung bisa berkata lain. Tapi emang es krimnya enak banged (*tengkyu Feb atas traktirnya*), apalagi yang Choco Chips. Satu cone harganya 15rebu dan bisa pilih 2 toping (sayangnya ga boleh icip-icip toping) Hmmmm...yummmeeeeh...!!


Ki-ka : Neni, Dibon, Febri.
Berani pamer es krim, padahal belum bayar.


Kiri : saya lagi siap2 merentangkan dinding mulut untuk nelen es krim.
Kanan : dibon lagi nyolok idung pake es krim.

Oh ya ... baidewei ... salah satu toping es krim yang saya pesen, Cherry, itu rasanya mirip kek obat batuk rasa stroberi. Dan Febri juga bilang kalo toping Menta yang warna ijo rasanya malah kek odol. Kreatip sekali ya ... mungkin next time Anda bisa juga ngicipin toping rasa deterjen.


Habis makan es krim ... kita masih kuat pesan ... 1 porsi takoyaki! Mwoahahaha ...!
Satu porsi harganya 15rebu, dapet 6 buletan takoyaki, dan 2 tusuk gigi kualitas C (emang sapa yang peduli sama kualitas tusuk gigi?).

Pemuda dari Jamban (sebelah mananya Jombang?), wajahnya disamarkan karena ga penting, berpose dengan takoyaki yang masih mengepul hangat.


Habis beli takoyaki, kita nongkrong layaknya anak MTV (apa coba?) di kosan saya sembari menikmati jerih payah membeli takoyaki. Terus si febri ngeluarin oleh2 cokelat dari Holland pula. Omaigod ... enough is enough! Jeans saya dah ga muat lageeeee !!


Balada Terong Bakar

One thing I love from being at home is having cooking time with my mum!

Kalo pembantu rumah udah pulang kampung, dapur jadi milik saya ma nyokap. Jadi, saya bisa nyoba masak yang aneh2.


Dulu saya pernah ngerampok terong bakar pesenannya Febri di DeCost.
Sebenernya saya kurang suka terong sih. Tapi yang satu itu enak sekaleh. Terong-nya bukan di balado (kaya yang biasa di RM padang), tapi dibakar pake semacam bumbu kuning gitu (*yang menurut hasil analisis saya adalah hasil campuran antara tumisan bawang sama krayon kuning*).

Berbekal pengalaman dan ke-sotoy-an, akhirnya saya nyoba bikin terong yang serupa (tapi sangat tak sama) di rumah. Resep ini saya beri nama ’Terong Bakar DeCost Wannabe’.

----------------------------------------

Cara memasaknya:

1. Siapkan bumbu kari atau bumbu rendang. Whatever lah, mau pake bumbu sesajen juga boleh.

2. Terong dimutilasi sesuai selera.

3. Hasil mutilasi ini direbus dalam larutan bumbu. Tunggu sampai bumbu meresap dan terong menjerit-jerit kepanasan.

4. Bakar terong dengan api sedang. Sambil membakar, lakukan cha-cha dance untuk menambah semangat si terong.

----------------------------------------

Hasilnya adalah ... TADAAAA! Sebuah cita rasa nusantara dari pedalaman hutan angker di Kalimantan.

Pas ada suara dung-dung buka puasa, saya icip terong yang paling kecil. Menurut saya sih enak, cuman agak kurang empuk sama bumbunya juga kurang meresap (hehe, itu sih sama aja ga enak ya).

Abis itu saya ga mau makan lagi. Nasib sisa porsinya saya serahkan pada nyokap, OHO-OHO-OHO. Ya, that’s another thing i love from cooking at home .. Ada nyokap yang selalu tabah dan bersedia jadi kelinci percobaan. Kemaren saya suruh ngicipin tahu mendoan keasinan, kali ini terong bakar kemutungan. Mungkin dalam hati beliau sudah mengiba "Ya Allah, sungguh durhaka anakku ini ... biarlah saya kutuk dia menjadi cantik".

Inilah penampakan Terong Bakar DeCost Wannabe.
Saya beri rating ONE THUMB AND ONE POINT-FINGER UP!

sak...masak...masak....

Ceritanya kemaren ada masak-masak. Siapakah pelakunya ? Tentunya saya sendiri dan beberapa dedengkot lainnya. TKPM alias Tempat Kejadian Perkara Memasak tentu saja di rumah teman saya yang berinisial gaDIs keBON alias dibon.

Baidewei, seumur idup, pengalaman masak saya bisa diitung pake sebelah tangan. Biasanya saya nyoba masak kalo pulang ke Bekasi. Terakhir masak adalah bikin sarapan omelet rasa sabun colek di kosan. Korban cicipnya tak lain si dudul. Abis makan tu omelet, si dudul saya cekokin minum segelas vit.C Redoxong (bukan merek sebenernya) untuk memperkuat imunitas dan demi keselamatannya sendiri.


Bek tu topik …

Sebelumnya kita ngumpul dulu di kosan saya untuk membuat rencana menaklukkan dunia kuliner. Kita akhirnya sepokat bikin pancake dan ekado.

Ekado-ekado-eska-eskado-eskado-dewa-dewi-
suit-suit-one-two-three-four ….

Acara memasak di TKPM heboh bener. Si dibon ini ternyata dapurnya ultimate banged. Banyak piring2 berdebu. Nunduk dikit, ketemu kecoak deket kompor. Ada potelan-cokelat-yang-entah-umurnya-berapa tergeletak lunglai di kulkasnya. Waktu diinvestigasi, beliau malah bilang : ‘eh, itu kayaknya potongan gula merah deh’.

Oh gitu ya … gw baru tau kalo gula aren sekarang bentuknya kotak dan pake campuran kacang mede bon ….


Satu setengah jam berlalu. Akhirnya …. saksikan hasil karya kami sodara2 !

Kita mulai dari ekkado …
Kalo di rumah makan Jepang, Hoka-Hoka Bentol (bukan merek sebenarnya juga), ekkado biasanya begini …


Yang ini adalah ekado ala kita ! TADDAAAAAAAA … !!
Ekkado nan menggugah selera yang diikat dengan benang wol merah untuk mencegah isinya yang terburai-burai ...

(photo : taken by dibon)

Selanjutnya adalah pancake ...

Well, the pancake is supposed to be like this …

But it ended like this …

(photo : taken by dibon)

Pepatah bijak berkata : jangan menilai makanan dari bentuk luarnya. Nanti pamali dan berat jodoh. Lantas bagaimana jika setelah dicicip rasanya pun memprihatinkan ?

Hohohoho … sebagai juri yang objektif, saya menyatakan bahwa pancake-nya cukup lezat kok. Ekkado-nya? Not bad …. cuma agak kurang garem ma kurang mecin. Hehehe … but it’s fun, lho jeng … Perlu dicoba lagi nih lain kali. Dan for the next time, jangan ragu untuk mempercayakan kekuatan MECIN untuk rasa !

Teh Merah

Kemarin saya baru beli sebotol rempah-rempah yang diaku penjualnya sebagai teh merah. Lucu yah! Ada teh warna merah darah. Jualannya aja di salon (Lantas bagaimana saya bisa berada di salon tersebut? Oh, itu cerita lain...)

Saya cukup menikmati minum teh. Biasanya kalau malam saya suka minum teh cokelat biasa atau teh hijau. Dan karena harga gula semakin mahal, saya mulai berlatih minum teh tanpa gula. Mungkin nanti kalau harga air makin mahal, saya akan berlatih minum teh tanpa air...

Tapi untuk teh merah ini, saya sarankan untuk diminum dengan sedikit gula. Soalnya lumayan asem. Tapi enyak...enyak...enyak...!

Oh ya, produk yang saya beli bertitel Jasminume Red Tea. Saya nggak ngerti juga deh kenapa ada unsur-unsur nama ’Jasmin’ nya. Padahal hidung saya sama sekali nggak mencium wewangian melati. Mungkin lain kali sebaiknya diganti jadi Asemnume Red Tea ya, pak produsen?

Ini nih...penampakan dari Jasminume Red Tea...