Horoscope dan Sifat, apa hubungannya ?!

Suatu hari di kamar teman kos saya, terjadi percakapan antara saya dan si empunya kamar :

”Lel, lu kan scorpio ya... Katanya orang scorpio itu sifatnya nggak cocok, lho, sama Cancer...”
”Oh, gitu ya... Eh, lu bukannya Cancer yah ?”

”Iya”

”Hooo...mungkin itu sebabnya kita suka berkelahi sampe guling-guling ya...”

Hihihi...percakapan yang 2 baris terakhir itu kagak penting. Intinya, setelah percakapan itu saya jadi mikir2 : emangnya ada, ya, hubungan antara horoscope dan sifat seseorang ?

Yang namanya horoscope sesorang itu kan ditentukan berdasarkan waktu kelahiran. Nah, yang namanya ’waktu kelahiran’ jelas nggak ada hubungannya dengan sifat seseorang kan?!? Apa iya anak yang lahir di musim hujan lantas jadi anak yang pemalu lantaran jadi jarang main petak umpet ma temen-temennya di luar rumah? Atau apakah anak yang lahir di musim pancaroba lantas menjadi anak yang rajin membawa payung ? (makin ga nyambung...)

Terus karena penasaran dan iseng, saya coba googling* dengan kata kunci ’Horoscope dan sifat’. Hasilnya...ga ada yang nyambung!

Ada satu link ke portal forum yang ternyata di dalamnya membahas tentang kaitan antara sifat dan horoscope seseorang. Sayangnya, pembahasannya hanya dikhususkan untuk karakter wanita saja. URL-nya ada di : http://forum.webgaul.com/archive/topic/40497-1.html

Lalu, saya baca bahasan tentang bintang saya. Uhmmm...beberapa hal memang sesuai seperti kenyataannya, tapi tak terlalu banyak yang mirip. Saya yakin, kalau memang isi situs itu benar, tidak mungkin ada yang 100% mirip dengan apa yang dijabarkan. Toh, kalau orang sudah lama hidup, pasti ada pengaruh lingkungan (seperti keluarga, teman, pendidikan) yang turut andil membentuk atau mengubah karakteristik asli. Ya, toh ?!

Oh ya, saya paling bingung juga waktu di situs itu dikatakan bahwa wanita Scorpio sangat pemarah dan suka membanting-banting barang. Jadi, saya klarifikasikan di sini bahwa saya sama sekali tidak suka banting-banting barang kalau sedang marah. Apalagi gelas minum saya rata-rata terbuat dari melamin dan piring makan saya jumlahnya terbatas. Jadi, paling banter juga saya cuma jeduk-jedukin kepala ke dinding... (Ahahaha...nggak deng!)

Kemiripan antara isi situs dengan kenyataan mungkin cuma kebetulan saja kali ya ? Soalnya ada juga peserta forum ,which is seorang cewek Capricorn, yang protes lantaran nggak mirip sama sekali dengan sifat2 horoscope-nya. Terus ada peserta forum lain yang mengejek dia sebagai ’wanita Capricorn jadi-jadian’. Hehehehe....kasian amat yah.

Yang jelas, saya sih nggak percaya akan adanya benang merah antara horoscope dan karakter seseorang.

Anda lagi iseng? Coba deh, dicek URL di atas terus baca horoscope Anda atau teman wanita Anda (untuk yang laki-laki). Mirip, nggak? Terus kalau Anda masih ada waktu untuk iseng, kirimkan lagi pendapat Anda ke blog ini...

Apakah Anda percaya akan adanya hubungan antara Horoscope dan sifat seseorang ?
(Hehehe...kok, saya jadi ngerjain orang gini ya ?)

-------------------------------------------------------------------------------
* )
Beberapa teman saya dengan ngaconya menerjemahkan googling sebagai ’guling-guling’. Padahal maksud saya, googling adalah searching di internet melalui bantuan www.google.com.

404 Poem

Lagi brosing (baca : browsing) di Internet, tiba-tiba saya menemukan puisi ini di suatu situs. Lucu juga... Orang yang membuatnya begitu melankolis sampai bisa muncul kata-kata yang begitu dramatis untuk menggambarkan 404 Page Not Found !

The 404 poem:
It is said, "To err is human,"
That quote from alt.times.lore,
Alas, you have made an error,
So I say, "404."

Double-check your URL,
As we all have heard before.
You ask for an invalid filename,
And I respond, "404."

Perhaps you made a typo --
Your fingers may be sore --
But until you type it right,
You'll only get 404.

Maybe you followed a bad link,
Surfing a foreign shore;
You'll just have to tell that author
About this 404.

I'm just a lowly server
(Who likes to speak in metaphor),
So for a request that Idon't know,
I must return 404.

Be glad I'm not an old mainframe
That might just dump its core,
Because then you'd get a ten-meg file
Instead of this 404.

I really would like to help you,
But I don't know what you're looking for,
And since I don't know what you want,
I give you 404.

Remember Poe, insane with longing
For his tragically lost Lenore.
Instead, you quest for files.
Quoth the Raven, "404!"

Jatuh Cinta = Gangguan Jiwa ?

Saya hanya mengutip potongan artikel menarik dari National Geographic edisi Februari 2006. Coba saja simak ...

- - - - -

Donatella Marazitti, professor psikiatri di Universitas Pisa, Italia meneliti aspek biokimia pada penyakit cinta. Dia jatuh cinta dua kali dan merasakan keuatannya yang dahsyat. Marazitti menjadi tertarik pada pencarian kesamaan antara cinta dan gangguan obsesif-kompulsif.

Ia bersama rekan-rekannya mengukur kadar serotonin dalam darah pada 24 orang yang telah jatuh cinta selama enam bulan terakhir dan terobsesi objek cinta meraka selama sedikitnya empat jam setiap hari. Serotonin mungkin merupakan bintang pemancar saraf kita, yang berselang-seling dengan bintang obat psikiatri kita yang lain : Prozac, Zoloft, dan Paxil. Para peneliti telah lama membuat hipotesis, orang dengan gangguan obsesif-kompulsif (OCD) mengalami ‘ketidakseimbangan’ serotonin. Obat seperti Prozac nampaknya mengurangi OCD dengan menaikkan jumlah pemncar saraf yang ada pada titik temu antarneuron.

Marazitti membandingkan kadar serotonin para kekasih dengan kadar zat ini pada kelompok orang yang menderita OCD dan kelompok lain yang sama sekali tak mengalami gejolak perasaan maupun gangguan jiwa. Kadar serotonin darah orang yang terobsesi dan para kekasih sama-sama 40% lebih rendah ketimbang kadar zat ini pada orang yang normal. Artinya : Cinta dan gangguan obsesif-kompulsif kemungkinan memiliki ciri kimiawi serupa. Artinya : Cinta dan gangguan jiwa mungkin sulit untuk dibedakan.

Artinya : Jangan jadi bodoh. Jauhi saja.

- - - - -

Nah lho ... masih berminat jatuh cinta ? :)

"Asistennya payah ah!" -- Nah, sekarang rasain sendiri, deh !

Aduh, yang namanya ngomentarin orang emang enak ya...! Kalau mau mengkritik orang emang gampang. Ketiban saatnya sendiri yang mengalami hal yang sama, baru deh nyengir-nyengir malu...

Kalau zaman masih tingkat 1 dulu, zamannya masih dimanja sama dosen-dosen....zamannya masih diasistenin sama kakak-kakak angkatan... hobinya komentar ini-itu.
"Aduh, asisten gua kalo ditanya suka diem aja. Bisa nggak sih??"
"Wah, asistennya nggak asik..."
"Asistenku payah banget !"
"Asistenku ndak enak tenan !"
"Asistenku puaaayyaahhh buenerrrrr !!!"
dan pernyataan serupa-rupa lainnya ...

Sekarang baru ngerasain batunya deh. Lagi ngasistenin adik kelas, eh, udah lupa semua pelajarannya. Kebetulan di pelajaran itu ada materi yang saya nggak suka banget - jadi dulu nilainya juga pas-pasan. Hahaha !

Bodo'nya lagi...kok ya udah ndak bisa bukannya belajar dulu. Makin amburadul ! Pas ditanya ini-itu jadinya bingung sendiri. Malah nanya-nanya jawaban sama adek-adek yang pinter (makasih ya adek-adek... T_T). Akh...Shame on ME !


Dengan demikian, melalui blog ini saya membuat deklarasi instropeksi diri dengan tinta warna merah yang melambangkan darah saya (horor benerr..) !

Saya tidak akan makan buah palapa sebelum menyatukan seluruh Nusantara !

Lho?!

Bukan deng ...

Saya tidak akan meremehkan kemampuan orang lain sebelum saya sendiri merasakan posisi yang sama dengan yang mereka alami.

Nah, berarti kalau sudah *merasakan posisi yang sama dengan yang mereka alami* berarti boleh meremehkan dunk? Ya, boleh ... hehehehe...

Nggak deng ...
Serius dunk ah !

Saya tidak akan meremehkan kemampuan orang lain. TITIK.

Banyak Lely di Google

Sedang penat-penatnya*) kepala saya, akhirnya saya putuskan untuk surfing dulu di Google. "Search apa ya yang menarik ?" Akhirnya saya ketikkan keyword Lely dan saya geli sendiri melihat hasilnya ...
-------------------------------------------------------------------------------

Lely.com
Lely is a first class international manufacturer and supplier of high tech and innovative products for the dairy sector.



Lely Resort Glof and Country Club - Naples Florida
Information on residential golf course communities and their championship golf courses.

Lely australia
Lely canada

Lely usa
Manufacturer of fertilizer spreaders for turf and field applications. Also produces a line of milking machinery and accessories.

Lely UK
Lely High School
Lely High School is committed to excellence by meeting the needs of diverse learners in a safe, respectful and positive environment while providing ...

Sir Peter Lely Online (!)
Sir Peter Lely [Dutch-born English Baroque Era Painter, 1618-1680] Guide to pictures of works by Sir Peter Lely in art museum sites and image archives ...

Cornelis Lely
In Suriname the village Kofi-Djompo was renamed after Lely, who was Governor of ... A statue of Lely stands on the western point of the Afsluitdijk ...

-------------------------------------------------------------------------------
Lucu juga ya ... ternyata nama saya diabadikan jadi sekolah, peternakan sapi, pelukis era baroque, sampai-sampai ke desa di Suriname. Dan jumlah total pencarian atas nama Lely ada 1,230,000 ! (hihihihi....kok jadi narsis sendiri yak..).

Sudah mencoba search nama Anda di Google ?

*) penat = pingin pulang nggak bisa karena masih ada tugas, pingin ngerjain tugas nggak bisa karena teringat pulang, akhirnya cuma luntang-luntung depan komputer sambil ngemil Beng-Beng ...

Saya dan Radio

Kebiasaan baru saya sekarang ... menyetel radio 24 jam !
Dulu sih masih tergantung sama koleksi MP3 di PC. Lama-lama jadi bosan juga (soalnya agak kurang rajin meng-update koleksi).

Terus sekarang radio saya jadi diberdayakan lagi. Non-stop menyala 24 jam! Mulai dari bangun tidur, mandi pagi sambil dengerin Good Morning Show, terus ke kampus kadang-kadang lupa dimatikan (maaf ya ibu kos, saya boros listrik). Pulang dari kampus dengerin lagi deh...

Hmm...kalo disuruh sebut merek frekuensi radio favorit, saya pilih Rase 102,30 FM. Pembawa acaranya suka konyol-konyol. Lagu-lagunya juga lumayan soalnya nggak dipotong (sekarang masih ada nggak sih radio yang memotong lagu di tengah-tengah ?!?). Selain itu saya rada anti sama radio yang pembawa acaranya ngomongnya buaweelll nggak keruan. Dengernya jadi pusing. Tapi kalo yang ngomongnya kayak orang ngantuk juga nggak tahan dengarnya. Makanya, Rase jadi pilihan saya.

Kalo lagi males nyetel frekuensi (radio saya setelannya digital dan kalo mati lampu terpaksa di-setel lagi), saya pilih K-Lite 107,10 FM. Paling gampang nyetelnya ... frekuensinya paling pojok soalnya. Tapi suasananya kurang berjiwa muda (cieehh...sok jiwa muda amat sih!).

Sebenarnya napa coba saya tiba-tiba membahas soal radio. Ga jelas amat ya! :D Kalo ada yang mbaca, tolong posting comment soal apakah Anda punya radio favorit juga ? Saya juga jadi ingin tau... hmm...tengkyu!

The Man in the Mirror

Saya dapat puisi ini dari guru saya. Dia baik sekali karena sudah menyempatkan diri ngobrol-ngobrol sama saya tentang apa yang dibahas dalam puisi ini. Padahal saya sendiri selama ini tidak pernah peduli dengan masalah tersebut, sampai pada hari itu dia meyakinkan saya bahwa saya sebenarnya bisa melakukan yang lebih baik.

Sebenarnya saya sendiri bukan orang yang puitis atau pecinta sastra yang suka menyempatkan diri baca-baca karyanya W.S rendra, Khalil Gibran atau siapa pun. Tapi puisi yang ini saya simpan terus karena memberi inspirasi untuk hidup saya ...
Thank you, sir ...


The Man in the Mirror

If you get what you want in your struggle for self
And the world makes you King for a day
Then go to the mirror and look at yourself
And see what that Man has to say

For it isn't a man's father, mother or wife
Whose judgement upon him must pass
The fellow whose verdict counts most in his life
Is the Man staring back from the glass

He's the fellow to please, never mind all the rest
For he's with you clear up to the end
And you've passed your most dangerous, difficult test
If the Man in the glass is your friend

You can fool the whole world down the pathway of years
And get pats on the back as you pass
But your final reward will be heartache and tears
If you've cheated the Man in the glass

Alasan Orang Nggak Nge-Blog

Apa yang jadi alasan orang nggak mau nge-blog ? Ini di antaranya ...

Tidak suka kisah curhatnya dibaca orang. Jadi, mending nulis di jurnal pribadi secara manual atau tidak usah ditulis sama sekali (rahasiaku aman bersamaku...)
-------------------------------------------------------------------------------
Mengaku lebih suka curhat sama orang hidup daripada sama komputer.
-------------------------------------------------------------------------------
Tidak punya topik. Kalaupun ada ide, sering keburu lupa saat mau menulis.
-------------------------------------------------------------------------------
Malas karena harus ke warnet untuk posting tulisan.
-------------------------------------------------------------------------------
Kehilangan rasa percaya diri karena blog nya tidak pernah mendapat posting komentar dari orang lain.
-------------------------------------------------------------------------------
Tidak tahu kalau di planet ini ada aktivitas blogging.

Jewel In The Palace

Tidak ada maksud menghina kualitas drama TV kita, tapi memang siapa yang tahan kalau tiap hari yang dilihat seperti itu-itu saja ...


Sekarang sedang diputar di Indosiar drama korea yang titelnya Jewel in the Palace (saya tidak tau titelnya dalam bahasa Korea). Kisahnya heroik sekali : tentang perjuangan seorang wanita yang berhasil menjadi dokter istana wanita pertama di Korea. Karena tidak tahan menunggu iklan dan episode berikutnya, saya akhirnya pinjam DVD-nya ke teman (DVD bajakannya seharga Rp.75rb) dan menyelesaikan filmnya dalam 2 malam.

Kalau pernah menonton drama Jepang atau Korea dan membandingkannya dengan sinetron Indonesia pasti terlihat sekali ke-jomplang-annya. Tidak ada maksud menghina kualitas drama TV kita (beberapa memang ada yang menarik, tapi tdk banyak) ... tapi memang siapa yang tahan kalau tiap hari yang dilihat seperti itu-itu saja ...

Rumah-rumah gedongan, pemain antagonis yang matanya sering melotot-lotot, hantu-hantuan pakai kain seprai, mama-mama tiri yang suka teriak-teriak heboh, anak kecil yang jadi pengemis dan nangis meraung-raung (padahal physically, kelihatannya si anak terlalu gemuk dan tampak sehat utk seorang pengemis), dan lain sebagainya...

Mengutip kata teman saya juga :

Sekarang lagi booming sinetron Indonesia yang ambil latar belakang style hidup anak muda zaman sekarang, kayak : sekelompok ABG yang hobi nge-drugs, sex bebas, dugem malem, de el el... Ingin lihat sesuatu yang beda. Bukan yang menampilkan ‘sikap hidup buruk apa yang banyak terjadi di kalangan anak muda’, tapi ‘sikap hidup baik seperti apa yang bisa dicontoh anak muda’.

Hmmm...padahal sinetron itu makanan sehari-hari adik-adik kecil kita, ibu-ibu, (mungkin) bapak-bapak juga, kakak-kakak kita, dan bibi yang bantu-bantu bersihin rumah kita ... (Anak tetangga saya saja sudah pintar ngomong ‘Buset!’ sama orang tua saat umurnya 4 tahun -gara-gara nonton sinetron. Hihihi...)

Kapan ya bisa lihat sinetron/drama Indonesia yang ceritanya mendidik ? (Mungkin gak ya mbak Mira Lesmana atau mas Rudi Soedjarwo kelak bikin sinetron yang ceritanya bagus ?)

Jeprat-Jepret Kucing di Tempat Kos


Di tempat kos saya ada kucing item-putih yang sehari-harinya sering nokrong (dan lari terbirit-birit kalau didekati manusia). Akhirnya si kucing sempat beranak pinak di sini. Totalnya ada 3 anak kucing dan semuanya memiliki paduan bulu putih dan abu-abu hitam. Kadang-kadang kalau personil keluarga kecil kucing ini lewat depan mata, saya suka iseng jeprat-jepret pakai kamera bapak saya.

Sebagian file foto ternyata hilang (baca : lupa disimpan di mana). Akhirnya yang berhasil ditemukan hanya yang ada di bawah ini ...

[1]
Dua detik setelah foto ini dijepret, si kucin
g langsung kabur








[2]
Saat mengambil foto ini, saya sampai memanjat pagar pembatas rumah kos








[3]
Beberapa kali si induk kucing memandang saya dengan tampang bete



Look At The Shoes !

(Diketik sembari nonton Extravaganza)

Tadi saat mengikuti kelas di suatu bimbingan bahasa inggris, guru saya melontarkan topik menarik. Selama hampir dua jam kita ngebahas soal gimana caranya membangun komunikasi dengan orang lain. Ujung-ujungnya malah merembet jadi soal gimana cara ampuh mengenali karakteristik orang dari alas kakinya.

The best way to recognize people is by looking at her shoes !

Pakaian sendiri bisa jadi indikasi penilaian juga, tapi kurang mencirikan seseorang. Coba ya, saya saja tiap hari ke kampus pasti menggunakan kaos yang berbeda. Celana, meskipun frekuensi penggantiannya tidak sesering baju atas, tetep masih lebih sering gonta-ganti ketimbang ... ALAS KAKI !

[ingat, konotasi alas kaki di sini bukan keset, melainkan sandal jepit, sandal cantik, sepatu olah raga, sepatu teplek, pantofel, dan lain sebagainya]

Kecuali orang yang hobi menyelaraskan alas kaki sama baju (kalau baju biru, sepatu juga biru ... kalau sepatu nggak matching sama tas, mending beli tas baru dulu), sebagian besar orang menjadikan alas kakinya sebagai teman setia (alias one shoes for every occasion) karena biasanya koleksi alas kaki kesayangan seseorang rata-rata hanya 2 atau 3. Dari situ kita bisa lebih mudah menebak-nebak karakteristik seseorang. Kalau sudah jago mencirikan sifat orang dari alas kaki, kita juga bisa menebak-nebak percakapan macam apa yang cocok untuk memulai perbincangan dengan orang semacam itu.

Misalnya, high heels (untuk wanita, tentu saja, karena saya belum pernah memergoki pria pakai high heel) menandakan wanita yang easy going, namun punya prinsip untuk tampil menarik di mata orang lain. Konon, ketinggian high heel juga selaras sama rasa PeDe.

Lain halnya dengan wanita yang lebih suka pakai sandal kemana-mana. Artinya dia rada cuek dan kurang peduli dengan apa kata orang soal penampilan. Tapi yang satu ini umumnya lebih terbuka untuk diajak ngomong soal apa saja. Sepatu sport menandakan orang yang dinamis dan praktis. Suka pada kebebasan tapi tidak mau tampil asal dengan bersandal-ria. Nah, lantas bagaimana dengan orang yang suka pakai sepatu kuda ? (Nah lho, nge-garink de...)

Oh ya, ngomong-ngomong soal alas kaki saya jadi inget sama dosen saya yang hobi menyelidik tiap kaki mahasiswanya yang berpapasan sama beliau. Salah kostum bisa berakibat omelan panjang lebar soal tata karma dan kesadaran berpakaian. Teman saya sampai ada yang rela mengaku sebagai mahasiswa jurusan lain supaya hukumannya diperingan (sekaligus mencoreng nama baik jurusan lain itu...hihihi...). Saya sendiri pernah hampir kepergok pakai sandal jepit. Untung masih sempat kabur...

Cerita soal alas kaki memang nggak ada habisnya. Apalagi kalau mau membahas cerita-cerita menyedihkan seputar bau-bau yang sering tercium di kelas kala ada teman yang lama tak mencuci alas kakinya. Kalau ada yang punya cerita soal alas kaki, silahkan dibagi di sini...

Dilema Mencari Tempat KP

Sebagai mahasiswa tingkat 3, sudah selayaknya saya mulai pusing berburu tempat Kerja Praktek (alias KaPe). Ternyata lebih sulit dari yang dibayangin...Saya pikir dengan koneksi semua beres !


Ternyata mencari koneksi saja susah. Punya koneksi pun belum tentu menjanjikan kemudahan. Teman saya malah ada yang jadi down gara-gara menerima penolakan dengan alasan :
"Maaf, kami sudah mendapatkan mahasiswa yang lebih kompeten untuk kerja praktek di sini"
(mungkin kata2nya tidak persis begitu ya, tapi yang jelas intinya menyedihkan...)

Akhirnya, kalau tadi punya cita-cita
*KP di perusahaan besar dan mendapat fasilitas (baca : gaji) yang layak*

sekarang berubah menjadi :
*KP di perusahaan mana pun asal dapat fasilitas (baca : gaji) yang layak*

dan akhirnya berubah lagi menjadi :
*KP di perusahaan apa pun, tak dapat fasilitas (baca : gaji) juga tak apa*

Jadi, perhatian buat adek-adek yang bentar lagi mau siap-siap buat KP. Persiapkan proposal KP mu jauh-jauh bulan sebelumnya. Apalagi bagi yang punya standar tinggi dalam mencari tempat KP. Hehehehe...

Otakusut...

Silahkan di-parsing sendiri kata tersebut. Bisa jadi bermakna ‘otak kusut’ atau ‘otak usut’. Artinya tidak ada yang salah. Blog ini memang dibuat untuk membantu saya mengurai isi otak saya yang kusut. Sayangnya, bukan kusut karena rumus-rumus kalkulus, fisika atau kimia. Bukan juga kusut gara-gara mikir berat urusan politik dan sosial negara. Kusut ini lebih kepada hal-hal sepele yang menemani saya sebagai manusia biasa yang suka memperbesar-besar masalah. Kadang-kadang urusan pakai baju warna apa ke kampus saja bisa jadi ruwet. Kalau urusan gono-gini itu bisa saya urai persatu-satu, mungkin beban pikiran jadi lebih ringan.

Kalau mau dimaknai ‘otak usut’ bisa juga. Artinya blog ini bisa saya pakai sebagai wadah untuk mengusut-usut isi otak saya. Mungkin ada wejangan-wejangan, rubriksiana, dagelan, atau tulisan yang maknanya pernah mampir di otak saya dan kebetulan masih saya ingat. (Tapi rasanya sulit sih, soalnya saya bukan pengingat yang baik).

Kebetulan saya suka menulis, walau masih terkategori sebagai penulis cap teri. Kadang punya ide untuk menulis tapi kalimat-kalimatnya hanya mampir selintas lalu hilang. Akhirnya isi tulisan juga tidak jelas arahnya (seperti sekarang ini). Makanya walau saya suka menulis tapi saya tidak pandai melakukannya dalam kapasitas pelajaran bahasa Indonesia.

Yang penting saya sekarang punya tempat baru untuk di-bom-bar-dir dengan unek-unek saya. Mencari teman curhat sekarang sulit. Kalau mau curhat terus ke teman dekat tidak tega rasanya. Mau curhat ke pacar, tidak bisa. Soalnya belum punya (hihihi...ini bukan promosi diri). Curhat ke orang tua, pulsa telepon tidak cukup. Apalagi kalau sedang asyik ngobrol tiba-tiba sinyalnya hilang. Ujung-ujungnya yang terdengar hanya orang di line seberang yang teriak-teriak “Halo..halo...kok gak kedengeran??”. Jadinya acara curhat tidak terasa syahdu.

Saat sedang iseng menjelajah internet via Google, tiba-tiba saya nyasar ke situs blog seseorang. Padahal jelas-jelas yang saya search itu image gembok (waktu itu sedang butuh gambar gembok). Akhirnya saya jadi terusik untuk membaca. Ternayata isinya menarik dan pikiran saya disodok-sodok untuk ikut mencoba. Walhasil, saya langsung sign up di sebuah portal penyedia blogger dan saya beri nama ‘otakusut’...