Showing posts with label mikir. Show all posts
Showing posts with label mikir. Show all posts

Misteri Nama Wanita di ’Deal or No Deal’

Minggu, 7 Oktober 2007,
pukul 22.30 sambil nonton
Deal Or No Deal

Siapa sih yang ga tau acara tipi Deal Or No Deal?

Kayaknya ga ada deh.

Siapa juga sih yang ga doyan nonton acara tipi Deal Or No Deal?

(backsound: Saya! SaYa! SAya!)

Ni acara menurut saya gada seru-serunya. Cuma tebak2an nomer koper doank. Buat orang yang hoki-nya minus kayak saya, ikut kuis semacam ini bagaikan melihat api dalam sekam (peribahasa-nya ga nyambung ya...).

Yang agak mendingan dari kuis ini cuma mbak-mbak yang bawa koper. Cantik-cantik dan murah senyum (Ini cuma pandangan objektif, saya bukan lesbi). Jumlahnya ada 25 ekor sesuai banyaknya koper yang dibawa. Saya menyebut profesi mereka sebagai BABU WARAS alias ’pemBAwa koper Bertuliskan jumlah UWAng yang diRAhaSiakan’.

Kalo saya perhatiin dari episode yang satu dan lain (ga doyan tapi kok sering nonton ya?), BABU WARAS-nya sepertinya ndak sama ya. Sering ada yang diganti2 gitu. Lantas bagaimana Tantowi Yahya menghapalkan namanya? Secara para BABU WARAS itu didandanin mirip2 satu sama lain ... diliat dari jauh pake sedotan yang dicolokin langsung ke mata Tantowi ... pasti sulit sekali bukan?

Ini adalah misteri ...

Saya lantas berspekulasi dan berpikir (hihihi, kaya begini aja kok dipikirin). Menurut saya sih, Tantowi ga hapal namanya. Dia cuma punya stok daftar nama yang tipikal dipunyai cewek, misalnya: Rini, Ani, Sarah, Dina, Dini (eh sori ya buat temen gw yang namanya Dini ... your name is so typical sih ... nyehehe). Paling banter kalo Tantowi kehabisan stok nama, dia bisa berimprovisasi dikit jadi: Juminten, Suparni, Bi Inah, Pak Sapto.


Tapi kalo saya salah?

Ya bisa aja sih Tantowi emang hapal semua namanya. Untuk itu, saya mengucapkan salute. Secara saya emang punya penyakit susah menghapalkan nama, kecuali kalo nama orangnya aga2 unik gitu, misalnya: aprit. Kan jarang tuh ada orang dikasih nama kek gitu .. biasanya saya jadi cepet apal karena bisa diasosiasikan dengan sesuatu, misalnya jadi jin aprit.

---------------------------------------------

KESIMPULAN DAN PENELITIAN SELANJUTNYA

Kesimpulannya adalah .. menghapalkan nama itu susah, Tantowi sesungguhnya tidak hapal nama semua BABU WARAS, dan Soleha lebih cocok jadian sama Ervan ketimbang Rendra.

Penelitian ini masih berlanjut. Metodologi yang akan dilakukan dalam penelitian selanjutnya adalah memperhatikan apakah mbak yang namanya ’Ririn’ di episode ini mukanya sama dengan ’Ririn’ di episode mendatang. Yuk ah, kuisnya dah abis .. saya mau tidur ...

Sampah Domestik

Kemaren saya pulang liburan ke Bekasi selama 7 hari. Di salah satu hari saya main ke rumah sakit di Pelni Petamburan. Terus saya jalan-jalan ke toilet wanita (acara berlibur yang aneh …). Pas lagi asik2nya menikmati interior toilet, saya melihat ada tong sampah seperti yang tampak pada gambar berikut :











Sugoi banged, saya baru tau …
sejak kapan ya ada istilah ‘Sampah Domestik’ ?

Kirain yang ada cuma ‘sampah organik’ dan ‘sampah anorganik’. Itu aja saya masih suka bingung ngebedainnya, misalnya : kalo saya nemu mayat di jalan, ke manakah saya harus membuang ? Ke bak sampah organik atau anorganik ?

Kemudian ada orang2 yang berbaik hati menerjemahkan istilah biologi tersebut ke dalam bahasa yang lebih awam : ‘sampah makanan dan basah’ dan ‘sampah plastik dan kertas’. Kalau yang ini saya jadi ngerti.

Terus sekarang ada ‘sampah domestik’. Apakah maksudnya adalah sampah dalam negeri ? Jadi, kalo ada bule yang mau buang tisu bekas ingus berarti ga boleh di bak ini (karena ingusnya dikategorikan sebagai benda dari luar negeri) ?

Kartini ... harum namanya ...

[Lab SI, Sabtu, 21 April 2007 / pukul 15:21 WIB]
Selamat hari kartini semuanya !
Ceritanya sekarang saya lagi ngerjain TA di lab. Bosen deh ! Percayalah, adek-adek yang belum mengambil TA ! TA itu menjemukan ! Jadi, jika kalian bisa lulus tanpa mengerjakan TA, maka kalian sangat beruntung !

Baidewei, tentang Kartini ...
sekarang masih ada nggak ya perayaan buat ibu Kartini di sekolah2 ?
Dulu pas smp (kalo ga salah), perayaan Kartini sempet di-ban gara2 lagi krismon ya. Abis itu, setahun, 2 tahun, 3 tahun sesudahnya pun ga diadain lagi. Saya ga inget tuh pernah ada perayaan Kartini pas sma.

Kenapa ya ?
Padahal mah kalo alasannya *takut buang2 duit* atau *musti prihatin gara2 ekonomi indonesia lagi krisis* ... yah itu sih tergantung kreatipitas sekolahnya aja. Kan bisa tuh ngadain lomba merancang konde, lomba lari pake jarik, lomba perang pake tusuk konde, atau lomba2 lain yang murah meriah. Yang penting mah tetep ada semangat nasionalismenya.

Padahal perayaan2 kayak gitu kan penting ya biar bikin generasi muda kita bisa tetep bangga ma bangsanya ! Saya aja bangga kok dulu bisa pake kebaya meskipun ga dikonde ! (waktu SD rambutnya ga cukup lebat buat dikonde).

Cih ! Kenapa saya jadi marah2 gini. Sebenernya dari tadi kebelet pipis sih. Nulisnya jadi buru2. Caw dulu ah ...

Pesan moral dari minum air putih : “Giatlah belajaR”

Ini adalah sosok kemasan air minum yang bertitel ‘Air Gan*s*’















Lantas apa istimewanya ?

Mari kita tengok lebih dekat …
zoom in … zoom in …













Saya nggak ngerti …
Kenapa di tutup kemasan air mineral ini ada pesan moral : ‘Giatlah belajaR’ ?
Saya ga nemu hubungannya antara minum air putih sama kegiatan belajar-mengajar …

Apa karena minuman ini diproduksi oleh unit usaha yang dinaungi suatu institusi pendidikan ?
Apakah maksudnya dengan minum air putih kita jadi giat belajar ?
Atau kita harus giat belajar supaya bisa minum air putih ?
(Terus kenapa pula si gajah mengacungkan jempol ? Kayak yang air putih ada rasanya ajah …)

Kenapa nggak diganti dengan kalimat yang lebih nyambung sama inti produknya sendiri, misalnya :
Giatlah minum air putih !
Minumlah air putih setiap hari !
Hidup air putih ! Hip...hip...hurray !

Udah gitu cara penulisan kalimat ‘Giatlah belajaR’ itu ndak lazim. Kenapa hurup depan ma belakangnya harus di-kapslok gitu ? Mungkin kesannya biar gaya yah ?

Tidak ada maksud menghina (padahal udah jelas2 menghina … hohohoho …) atau menurunkan kredibilitas dari produk ini. Kritik kan muncul dari rasa peduli dan sayang …. di samping rasa usil. Hihihi …

Tetap cintai produk dalam negeri yah !
Banyak2lah minum air putih dan waspadai kemasan produk air mineral Anda !

The Customer Is Always Right, Even When He’s Wrong

Customers who contract you for an application often do not have enough expertise to design such an application by themselves, which is why they hire you.When discussing requirements with customers, guide them when they’re suggesting bad solutions. For example, if the customer says,“I want a chat that displays full-screen images of every chatter, refreshed at least every second,” you might make this counter-suggestion:“Wouldn’t it be better to try to stick to thumbnail views next to each line? Most of your chatters won’t have enough bandwidth to display full-screen pictures at all.”

But be careful; never insist on your point of view (except when customers want you to implement unrealistic features). After all, customers pay you to implement their vision.To avoid losing a contract, you may have to accept temporarily implementing a bad solution (when you see that you can’t talk the customer into doing it the right way), and then later on change it when the customer sees that it won’t work out using their strategy.

Taken from :
Web Application Development with PHP4 by Tobias Ratschiller and Till Gerken
(Copyright © 2000 by New Riders Publishing)

----------------------------------------------------------------------

Masuk akal juga yang diomongin sama si Tobias dan konconya itu. Terutama pada bagian-bagian yang saya bold. Tapi menyebalkan sekali yah kalau kita harus mengimplementasikan solusi yang salah hanya untuk mengajarkan kepada costumer bahwa pilihan mereka itu buruk.

Yaaah...namanya juga usaha buat nyari duit...

Bai de wei…rajin amat gw baca buku ginian yah?!
Hohoho…kalo bukan gara-gara KP doank mah…

Play Like a Man, Win Like a Woman

Saya jarang baca buku self-help. Soalnya sering ga ngaruh buat saya. (Biasanya buat keren-kerenan doank. Kesannya kayak yang saya ini suka memperbaiki hidup aja. Hohoho…) Tapi buku yang satu ini saya suka banget.

Eh, but this book is for women only. So…boys, my today’s blog is absolutely not for you !

Pokoke si Gail Evans yang ngarang buku ini bercerita panjang lebar kenapa wanita pada umumnya tidak bisa meraih sukses seperti layaknya pria. Padahal wanita juga dianugerahi kemampuan yang nggak kalah hebat dari pria..

Misalnya, terbukti bahwa wanita umumnya lebih unggul dalam hal-hal yang terkait dengan hubungan antarmanusia ketimbang pria. Itu terlahir secara natural dari intuisi feminis seorang wanita dan itu merupakan poin lebih yang umumnya tidak dimiliki seorang pria. Tapi di sisi lain hal tersebut ternyata justru jadi bumerang buat wanita karena wanita jadi sulit memisahkan antara perasaan pribadi dengan urusan bisnisnya.

Baca…baca…baca…!

Kalian para wanita perlu referensi diri dari buku ini. Gail Evans memberi tahu kita gimana tip dan trik nya supaya kita bisa bekerja dengan aturan pria, namun tetap dalam kapasitas seorang wanita (dan mungkin malah memanfaatkan kapasitas tersebut !).

Oh, dan si Gail Evans ini sendiri orang hebat lho. Karena dia seorang ibu rumah tangga tapi juga sukses menjadi seorang executive vice president di CNN. Jadi, dia nulis buku ini ga cuma asal ngebacot doank. (eh, emangnya ngebacot itu bahasa yang kasar ya?)

Kemarin saya pinjem buku ini di Zoe Corner dan sudah saya kembaliin. Buat yang berminat silahkan japri ke saya, ntar saya beritahu di sesi mana buku itu saya sembunyikan (Hihihihi. Becanda deng ... wish i could do that !)

Frustrating









----------------------------------------
* bai de wei, kenapa frustrating diterjemahin jadi frustasi ... bukan frustrasi ...

Horoscope dan Sifat, apa hubungannya ?!

Suatu hari di kamar teman kos saya, terjadi percakapan antara saya dan si empunya kamar :

”Lel, lu kan scorpio ya... Katanya orang scorpio itu sifatnya nggak cocok, lho, sama Cancer...”
”Oh, gitu ya... Eh, lu bukannya Cancer yah ?”

”Iya”

”Hooo...mungkin itu sebabnya kita suka berkelahi sampe guling-guling ya...”

Hihihi...percakapan yang 2 baris terakhir itu kagak penting. Intinya, setelah percakapan itu saya jadi mikir2 : emangnya ada, ya, hubungan antara horoscope dan sifat seseorang ?

Yang namanya horoscope sesorang itu kan ditentukan berdasarkan waktu kelahiran. Nah, yang namanya ’waktu kelahiran’ jelas nggak ada hubungannya dengan sifat seseorang kan?!? Apa iya anak yang lahir di musim hujan lantas jadi anak yang pemalu lantaran jadi jarang main petak umpet ma temen-temennya di luar rumah? Atau apakah anak yang lahir di musim pancaroba lantas menjadi anak yang rajin membawa payung ? (makin ga nyambung...)

Terus karena penasaran dan iseng, saya coba googling* dengan kata kunci ’Horoscope dan sifat’. Hasilnya...ga ada yang nyambung!

Ada satu link ke portal forum yang ternyata di dalamnya membahas tentang kaitan antara sifat dan horoscope seseorang. Sayangnya, pembahasannya hanya dikhususkan untuk karakter wanita saja. URL-nya ada di : http://forum.webgaul.com/archive/topic/40497-1.html

Lalu, saya baca bahasan tentang bintang saya. Uhmmm...beberapa hal memang sesuai seperti kenyataannya, tapi tak terlalu banyak yang mirip. Saya yakin, kalau memang isi situs itu benar, tidak mungkin ada yang 100% mirip dengan apa yang dijabarkan. Toh, kalau orang sudah lama hidup, pasti ada pengaruh lingkungan (seperti keluarga, teman, pendidikan) yang turut andil membentuk atau mengubah karakteristik asli. Ya, toh ?!

Oh ya, saya paling bingung juga waktu di situs itu dikatakan bahwa wanita Scorpio sangat pemarah dan suka membanting-banting barang. Jadi, saya klarifikasikan di sini bahwa saya sama sekali tidak suka banting-banting barang kalau sedang marah. Apalagi gelas minum saya rata-rata terbuat dari melamin dan piring makan saya jumlahnya terbatas. Jadi, paling banter juga saya cuma jeduk-jedukin kepala ke dinding... (Ahahaha...nggak deng!)

Kemiripan antara isi situs dengan kenyataan mungkin cuma kebetulan saja kali ya ? Soalnya ada juga peserta forum ,which is seorang cewek Capricorn, yang protes lantaran nggak mirip sama sekali dengan sifat2 horoscope-nya. Terus ada peserta forum lain yang mengejek dia sebagai ’wanita Capricorn jadi-jadian’. Hehehehe....kasian amat yah.

Yang jelas, saya sih nggak percaya akan adanya benang merah antara horoscope dan karakter seseorang.

Anda lagi iseng? Coba deh, dicek URL di atas terus baca horoscope Anda atau teman wanita Anda (untuk yang laki-laki). Mirip, nggak? Terus kalau Anda masih ada waktu untuk iseng, kirimkan lagi pendapat Anda ke blog ini...

Apakah Anda percaya akan adanya hubungan antara Horoscope dan sifat seseorang ?
(Hehehe...kok, saya jadi ngerjain orang gini ya ?)

-------------------------------------------------------------------------------
* )
Beberapa teman saya dengan ngaconya menerjemahkan googling sebagai ’guling-guling’. Padahal maksud saya, googling adalah searching di internet melalui bantuan www.google.com.

404 Poem

Lagi brosing (baca : browsing) di Internet, tiba-tiba saya menemukan puisi ini di suatu situs. Lucu juga... Orang yang membuatnya begitu melankolis sampai bisa muncul kata-kata yang begitu dramatis untuk menggambarkan 404 Page Not Found !

The 404 poem:
It is said, "To err is human,"
That quote from alt.times.lore,
Alas, you have made an error,
So I say, "404."

Double-check your URL,
As we all have heard before.
You ask for an invalid filename,
And I respond, "404."

Perhaps you made a typo --
Your fingers may be sore --
But until you type it right,
You'll only get 404.

Maybe you followed a bad link,
Surfing a foreign shore;
You'll just have to tell that author
About this 404.

I'm just a lowly server
(Who likes to speak in metaphor),
So for a request that Idon't know,
I must return 404.

Be glad I'm not an old mainframe
That might just dump its core,
Because then you'd get a ten-meg file
Instead of this 404.

I really would like to help you,
But I don't know what you're looking for,
And since I don't know what you want,
I give you 404.

Remember Poe, insane with longing
For his tragically lost Lenore.
Instead, you quest for files.
Quoth the Raven, "404!"

Jatuh Cinta = Gangguan Jiwa ?

Saya hanya mengutip potongan artikel menarik dari National Geographic edisi Februari 2006. Coba saja simak ...

- - - - -

Donatella Marazitti, professor psikiatri di Universitas Pisa, Italia meneliti aspek biokimia pada penyakit cinta. Dia jatuh cinta dua kali dan merasakan keuatannya yang dahsyat. Marazitti menjadi tertarik pada pencarian kesamaan antara cinta dan gangguan obsesif-kompulsif.

Ia bersama rekan-rekannya mengukur kadar serotonin dalam darah pada 24 orang yang telah jatuh cinta selama enam bulan terakhir dan terobsesi objek cinta meraka selama sedikitnya empat jam setiap hari. Serotonin mungkin merupakan bintang pemancar saraf kita, yang berselang-seling dengan bintang obat psikiatri kita yang lain : Prozac, Zoloft, dan Paxil. Para peneliti telah lama membuat hipotesis, orang dengan gangguan obsesif-kompulsif (OCD) mengalami ‘ketidakseimbangan’ serotonin. Obat seperti Prozac nampaknya mengurangi OCD dengan menaikkan jumlah pemncar saraf yang ada pada titik temu antarneuron.

Marazitti membandingkan kadar serotonin para kekasih dengan kadar zat ini pada kelompok orang yang menderita OCD dan kelompok lain yang sama sekali tak mengalami gejolak perasaan maupun gangguan jiwa. Kadar serotonin darah orang yang terobsesi dan para kekasih sama-sama 40% lebih rendah ketimbang kadar zat ini pada orang yang normal. Artinya : Cinta dan gangguan obsesif-kompulsif kemungkinan memiliki ciri kimiawi serupa. Artinya : Cinta dan gangguan jiwa mungkin sulit untuk dibedakan.

Artinya : Jangan jadi bodoh. Jauhi saja.

- - - - -

Nah lho ... masih berminat jatuh cinta ? :)

The Man in the Mirror

Saya dapat puisi ini dari guru saya. Dia baik sekali karena sudah menyempatkan diri ngobrol-ngobrol sama saya tentang apa yang dibahas dalam puisi ini. Padahal saya sendiri selama ini tidak pernah peduli dengan masalah tersebut, sampai pada hari itu dia meyakinkan saya bahwa saya sebenarnya bisa melakukan yang lebih baik.

Sebenarnya saya sendiri bukan orang yang puitis atau pecinta sastra yang suka menyempatkan diri baca-baca karyanya W.S rendra, Khalil Gibran atau siapa pun. Tapi puisi yang ini saya simpan terus karena memberi inspirasi untuk hidup saya ...
Thank you, sir ...


The Man in the Mirror

If you get what you want in your struggle for self
And the world makes you King for a day
Then go to the mirror and look at yourself
And see what that Man has to say

For it isn't a man's father, mother or wife
Whose judgement upon him must pass
The fellow whose verdict counts most in his life
Is the Man staring back from the glass

He's the fellow to please, never mind all the rest
For he's with you clear up to the end
And you've passed your most dangerous, difficult test
If the Man in the glass is your friend

You can fool the whole world down the pathway of years
And get pats on the back as you pass
But your final reward will be heartache and tears
If you've cheated the Man in the glass

Alasan Orang Nggak Nge-Blog

Apa yang jadi alasan orang nggak mau nge-blog ? Ini di antaranya ...

Tidak suka kisah curhatnya dibaca orang. Jadi, mending nulis di jurnal pribadi secara manual atau tidak usah ditulis sama sekali (rahasiaku aman bersamaku...)
-------------------------------------------------------------------------------
Mengaku lebih suka curhat sama orang hidup daripada sama komputer.
-------------------------------------------------------------------------------
Tidak punya topik. Kalaupun ada ide, sering keburu lupa saat mau menulis.
-------------------------------------------------------------------------------
Malas karena harus ke warnet untuk posting tulisan.
-------------------------------------------------------------------------------
Kehilangan rasa percaya diri karena blog nya tidak pernah mendapat posting komentar dari orang lain.
-------------------------------------------------------------------------------
Tidak tahu kalau di planet ini ada aktivitas blogging.

Jewel In The Palace

Tidak ada maksud menghina kualitas drama TV kita, tapi memang siapa yang tahan kalau tiap hari yang dilihat seperti itu-itu saja ...


Sekarang sedang diputar di Indosiar drama korea yang titelnya Jewel in the Palace (saya tidak tau titelnya dalam bahasa Korea). Kisahnya heroik sekali : tentang perjuangan seorang wanita yang berhasil menjadi dokter istana wanita pertama di Korea. Karena tidak tahan menunggu iklan dan episode berikutnya, saya akhirnya pinjam DVD-nya ke teman (DVD bajakannya seharga Rp.75rb) dan menyelesaikan filmnya dalam 2 malam.

Kalau pernah menonton drama Jepang atau Korea dan membandingkannya dengan sinetron Indonesia pasti terlihat sekali ke-jomplang-annya. Tidak ada maksud menghina kualitas drama TV kita (beberapa memang ada yang menarik, tapi tdk banyak) ... tapi memang siapa yang tahan kalau tiap hari yang dilihat seperti itu-itu saja ...

Rumah-rumah gedongan, pemain antagonis yang matanya sering melotot-lotot, hantu-hantuan pakai kain seprai, mama-mama tiri yang suka teriak-teriak heboh, anak kecil yang jadi pengemis dan nangis meraung-raung (padahal physically, kelihatannya si anak terlalu gemuk dan tampak sehat utk seorang pengemis), dan lain sebagainya...

Mengutip kata teman saya juga :

Sekarang lagi booming sinetron Indonesia yang ambil latar belakang style hidup anak muda zaman sekarang, kayak : sekelompok ABG yang hobi nge-drugs, sex bebas, dugem malem, de el el... Ingin lihat sesuatu yang beda. Bukan yang menampilkan ‘sikap hidup buruk apa yang banyak terjadi di kalangan anak muda’, tapi ‘sikap hidup baik seperti apa yang bisa dicontoh anak muda’.

Hmmm...padahal sinetron itu makanan sehari-hari adik-adik kecil kita, ibu-ibu, (mungkin) bapak-bapak juga, kakak-kakak kita, dan bibi yang bantu-bantu bersihin rumah kita ... (Anak tetangga saya saja sudah pintar ngomong ‘Buset!’ sama orang tua saat umurnya 4 tahun -gara-gara nonton sinetron. Hihihi...)

Kapan ya bisa lihat sinetron/drama Indonesia yang ceritanya mendidik ? (Mungkin gak ya mbak Mira Lesmana atau mas Rudi Soedjarwo kelak bikin sinetron yang ceritanya bagus ?)

Look At The Shoes !

(Diketik sembari nonton Extravaganza)

Tadi saat mengikuti kelas di suatu bimbingan bahasa inggris, guru saya melontarkan topik menarik. Selama hampir dua jam kita ngebahas soal gimana caranya membangun komunikasi dengan orang lain. Ujung-ujungnya malah merembet jadi soal gimana cara ampuh mengenali karakteristik orang dari alas kakinya.

The best way to recognize people is by looking at her shoes !

Pakaian sendiri bisa jadi indikasi penilaian juga, tapi kurang mencirikan seseorang. Coba ya, saya saja tiap hari ke kampus pasti menggunakan kaos yang berbeda. Celana, meskipun frekuensi penggantiannya tidak sesering baju atas, tetep masih lebih sering gonta-ganti ketimbang ... ALAS KAKI !

[ingat, konotasi alas kaki di sini bukan keset, melainkan sandal jepit, sandal cantik, sepatu olah raga, sepatu teplek, pantofel, dan lain sebagainya]

Kecuali orang yang hobi menyelaraskan alas kaki sama baju (kalau baju biru, sepatu juga biru ... kalau sepatu nggak matching sama tas, mending beli tas baru dulu), sebagian besar orang menjadikan alas kakinya sebagai teman setia (alias one shoes for every occasion) karena biasanya koleksi alas kaki kesayangan seseorang rata-rata hanya 2 atau 3. Dari situ kita bisa lebih mudah menebak-nebak karakteristik seseorang. Kalau sudah jago mencirikan sifat orang dari alas kaki, kita juga bisa menebak-nebak percakapan macam apa yang cocok untuk memulai perbincangan dengan orang semacam itu.

Misalnya, high heels (untuk wanita, tentu saja, karena saya belum pernah memergoki pria pakai high heel) menandakan wanita yang easy going, namun punya prinsip untuk tampil menarik di mata orang lain. Konon, ketinggian high heel juga selaras sama rasa PeDe.

Lain halnya dengan wanita yang lebih suka pakai sandal kemana-mana. Artinya dia rada cuek dan kurang peduli dengan apa kata orang soal penampilan. Tapi yang satu ini umumnya lebih terbuka untuk diajak ngomong soal apa saja. Sepatu sport menandakan orang yang dinamis dan praktis. Suka pada kebebasan tapi tidak mau tampil asal dengan bersandal-ria. Nah, lantas bagaimana dengan orang yang suka pakai sepatu kuda ? (Nah lho, nge-garink de...)

Oh ya, ngomong-ngomong soal alas kaki saya jadi inget sama dosen saya yang hobi menyelidik tiap kaki mahasiswanya yang berpapasan sama beliau. Salah kostum bisa berakibat omelan panjang lebar soal tata karma dan kesadaran berpakaian. Teman saya sampai ada yang rela mengaku sebagai mahasiswa jurusan lain supaya hukumannya diperingan (sekaligus mencoreng nama baik jurusan lain itu...hihihi...). Saya sendiri pernah hampir kepergok pakai sandal jepit. Untung masih sempat kabur...

Cerita soal alas kaki memang nggak ada habisnya. Apalagi kalau mau membahas cerita-cerita menyedihkan seputar bau-bau yang sering tercium di kelas kala ada teman yang lama tak mencuci alas kakinya. Kalau ada yang punya cerita soal alas kaki, silahkan dibagi di sini...